Skip to main content

Posts

Udang Merah Keramat dari Buton

Udang merah keramat dari Buton. Kedengarannya mistis, ya? Karena kemistisan itulah kami penasaran dan ingin melihat langsung. Saya tidak tahu nama asli tempatnya, tapi sebut saja Danau Udang Merah. Lokasinya di dekat Pantai Koguna di Desa Mopano, Kecamatan Lasalimo Selatan, Buton, Sulawesi Tenggara. Dari Kota Baubau jaraknya sekitar 100 km, bisa ditempuh 2 hingga 3 jam dengan menggunakan mobil. Begitu sampai Pantai Koguna kesan pertama saya: terlantar. Pantainya cantik, berpasir putih dan warna air laut bergradasi biru. Sayangnya, sampah berserakan di mana-mana. Sebenarnya ada beberapa fasilitas yang sudah dibangun, seperti jalan beraspal, tempat parkir, toilet umum dan beberapa gazebo untuk bersantai. Sayangnya, semuanya tampak tak terurus, terlantar, dan dibiarkan rusak begitu saja. Tapi tujuan utama kami adalah danau udang merah. Jadi cukup beberapa menit menginjakkan kaki di pasir pantai, kami pun langsung mencari danau yang katanya menjadi habitat udang mera...

Pantai Desa Bahari, si Ratu Ampat dari Buton Selatan

Rasa-rasanya pantai di pulau Buton hanya ada dua kategori: cantik dan cantik banget. Pantai Desa Bahari masuk dalam kategori yang kedua. Saking cantiknya pantai ini disamakan dengan Raja Ampat. Jika di Papua raja, si cantik dari Buton Selatan ini populer dengan sebutan Ratu Ampat. Tidak sembarang mencomot nama. Julukan Ratu Ampat diberikan karena terdapat empat batuan karang besar yang gagah berdiri di bibir pantai. Bagian bawah batu yang terkikis ombak membuatnya tampak seperti payung raksasa yang indah. Pasir putih yang halus dan air laut yang jernih dengan gradasi warna biru toska membuat pantai ini semakin memesona. Saat kami ke sana, air laut sedang surut sehingga banyak bintang laut yang bertebaran di sepanjang pantai. Bahkan ada beberapa landak laut. Pantainya cenderung sepi meski kami datang saat akhir pekan. Hanya terlihat warga lokal yang bermain bola di area parkir dan beberapa gadis cilik yang sedang mencari hewan laut dan menampu...

Main Salju 'Es Serut' di Bekasi

"Bunda, Raina mau main di salju," pinta Raina waktu umurnya baru sekitar 2 tahun. Waktu itu saya tidak langsung mengiyakan, tapi mengajaknya berdoa agar keluarga kami selalu diberi kesehatan dan rezeki, supaya bisa jalan-jalan ke negara bersalju. Eh tak lama adiknya lahir. Ya ditunda dulu jalan-jalannya sampai Dayu besar dan otaknya bisa menyimpan kenangan dengan baik. Percuma juga pergi jauh-jauh kalau anaknya masih ileran dan belum ngerti apa-apa, kan? Hehe. Pas nonton TV kok lihat ada iklan Trans Snow World, taman bermain salju milik Trans Corp. Boleh juga nih main-main ke sana. Jadilah libur lebaran kemarin, ayah janji ngajak Raina main salju di Bekasi. Rencana main ke sana sebelum mudik ke Tegal. Sayangnya, kami sampai Jakarta lewat tengah malam. Semua kelelahan, sampai nggak bangun sahur. Besoknya lemas, nggak sanggup rasanya menembus kemacetan dari Kelapa Gading (tempat kami menginap) ke Bekasi. Nah, pas mau balik ke Makassar ada waktu lowong sebenta...

Cerita Bahagia dari Kami Pejuang PCOS

"Mbak saya juga PCOS. Sudah 2 tahun nikah belum juga hamil." "Saya sudah 6 tahun menikah, sudah minum obat ini itu tapi belum ada tanda-tanda hamil." "Saya diresepin metformin mbak, tapi nggak kuat. Mual, lemes, jerawatan." "Rasanya capek mbak bolak-balik ke dokter, minum obat macam-macam tapi nggak hamil juga. Saya  down ." Curhatan semacam ini banyak masuk ke  direct message  instagram saya @merrywahyu. Saya bisa merasakan sedihnya. Saya penderita  Polycystic ovary syndrome  (PCOS) . Saya dulu juga berjuang untuk mendapatkan momongan. Saya dulu juga stres mendapat pertanyaan: Belum isi ya? Kok belum hamil? Jangan ditunda terus keburu tua. Saya dulu juga lelah bolak-balik setor muka ke dokter kandungan tiap datang bulan. Saya dulu juga jenuh minum obat hormon tiap hari yang efeknya bikin lemas, mual, dan jerawatan. Tapi saya menolak untuk menyerah. ( Cerita perjuangan untuk hamil: 2,5 Tahun Menunggu Raina ) ...

PCOS, Olahraga, dan Hamil Lagi

Saya hamil lagi. Rasanya tak percaya saat melihat hasil test pack pagi itu. Dua garis merah, satu tegas satu samar, tapi jelas menggambarkan hasilnya positif. Saya kaget, sungguh tak menyangka bakalan hamil lagi secepat ini. Saya penderita  polycystic ovary syndrome  (PCOS). Dulu saya harus terapi macam-macam dan minum obat ini itu untuk bisa hamil Raina. Juga butuh waktu lama dan biaya yang tidak sedikit. ( Baca juga: 2,5 Tahun Menunggu Raina ) Alhamdulillah hamil kali ini benar-benar rezeki tak terkira dari Allah. Saya hamil alami tanpa program apapun, tanpa minum obat apapun. Umur Raina juga sudah 2 tahun, jadi saya tidak punya hutang menyusui lagi. Allah Maha Baik. Pakai kontrasepsi? Semenjak Raina lahir hingga ulang tahun ke-2 saya selalu menggunakan kontrasepsi. Lho? Bukannya PCOS bakalan susah hamil? Iya, memang. Haid saya masih belum teratur bahkan setelah Raina lahir. Tapi tidak separah sebelum punya anak. Dan saya ingat pesan dok...

Lampu Biarpet Bisa Bahayakan Kesehatan

Lampu di ruang tamu mulai biarpet, berkedip-kedip pertanda sebentar lagi akan putus. Saya langsung saja mematikannya dan meminta suami untuk mengganti bohlamnya. Yang saya ingat dari dosen fisika citra dulu, lampu yang sudah biarpet bisa membahayakan kesehatan. Maksudnya merusak mata? Bukan itu saja. Lampu biarpet bisa memancarkan sinar-X yang efeknya lebih membahayakan. Itu yang dijelaskan oleh dosen pembimbing skripsi saya, Dr Gede Bayu Suparta, peneliti dan pengajar di Jurusan Fisika Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. "Lampu kedap-kedip akan memancarkan tenaga yang lebih besar ketimbang lampu yang terus menyala. Ini juga berpotensi memancarkan radiasi sinar-X," kata Pak Bayu, begitu saya memanggil beliau. Jadi begini penjelasan fisikanya. Saat lampu berkedip-kedip terjadi peristiwa yang disebut Bremsstrahlung, yaitu istilah dalam bahasa Jerman yang berarti radiasi pengereman. Pada saat lampu mulai menyala, elektron akan bergerak dengan kecepatan energi t...

Liputan Paling Berkesan

Hampir dua tahun saya meninggalkan dunia media, yang sudah saya geluti selama 6 tahun. Kangen? Kadang-kadang. Hehe. Apa sih yang paling dikangenin? Liputan tentunya, kalau kangen menulis kan bisa dilampiaskan lewat blog pribadi. Yang seru dari liputan bukan hanya bahan yang didapat, tapi juga cerita perjalanannya, teman liputan, juga kejadian-kejadian yang sebenarnya justru tak mengenakkan. Tak melulu liputan luar kota atau luar negeri sih, liputan lokal di Jakarta juga banyak yang berkesan. Contohnya saat b ertemu pasien yang tenggorokannya bolong karena kanker (akibat rokok), bertemu dengan penderita thalassemia yang seluruh tubuhnya membiru tapi punya segudang cerita inspiratif, bertemu pecandu rokok yang tobat dan akhirnya jadi terapis berhenti rokok, pernah dihubungi dokter yang memohon artikelnya diturunkan karena surat izin praktiknya terancam dicabut gara-gara salah kasih informasi ke media, pernah juga dimarahi lewat telepon oleh produsen rokok elektrik yang nama ...