Skip to main content

Posts

Berdamai dengan Dermatitis Atopik Anak

Raina dari bayi merah selalu bermasalah dengan kulit. Waktu umurnya satu atau dua bulan, pertama kalinya di leher dan punggungnya muncul bintil-bintil merah. Menurut dokter, Raina alergi makanan yang dikonsumsi ibunya. Setelah dianalisis kemungkinan dia alergi kacang tanah, jadi saya menghindari kacang tanah waktu itu. Tapi bintil-bintil merah selalu datang hampir tiap bulan, padahal saya sudah menghindari berbagai makanan yang berisiko tinggi alergi. Biang keringat di punggung juga jadi langganan, terutama bila udara lagi panas-panasnya. Dulu saya anggap wajar bayi biang keringat. Tapi kasihan juga dia selalu garuk-garuk, mungkin rasanya juga tidak nyaman. Waktu itu saya hanya mengobatinya dengan berbagai krim atau bedak pereda gatal, juga Lactacyd Baby untuk air mandinya. Hilang sebentar lalu muncul lalu. Biang keringat rasanya tidak pernah benar-benar pergi dari punggung Raina. Jika ada waktu untuk imunisasi saya juga selalu konsultasi dengan dokter anak. Beber...

Hati Gembira Main di Pantai Bara

Akhir pekan lalu saya, suami dan Raina liburan singkat ke Pantai Bara, pantai cantik di ujung selatan Sulawesi. Pantai berpasir putih yang terletak di Bulukumba ini berjarak 193 km dari Makassar, bisa ditempuh sekitar 5 jam melalui perjalanan darat. Sebenarnya di Bulukumba yang menjadi primadona adalah Tanjung Bira. Tapi kami lebih memilih Bara karena lebih sepi meski jaraknya lebih jauh dari Bira, pun jalan menuju ke lokasi tidak terlalu mulus. Karena niatnya memang mau liburan dengan mengajak batita jadi saya dan suami memilih pantai yang lebih tenang. Kami berangkat dari Makassar Sabtu sekitar pukul 11. Terlalu siang memang, tapi kami harus menunggu sampai asisten rumah tangga menyelesaikan tugasnya dulu. Sebelum berangkat, paginya suami sudah mengisi bahan bakar mobil, juga persiapan kendaraan lainnya. Kemudian mampir ke rumah makan Padang untuk membeli bekal makan siang. Saya sengaja bawa bekal karena belum tahu tempat makan yang bersih dan enak di sepanjang jalan. Selai...

Selamat Ulang Tahun, Raina!

31 Oktober 2015. Tegal masih pagi. Jarum jam belum tepat menunjuk angka delapan. Keriuhan rumah sakit di hari Sabtu pun belum tampak. Tapi saya sudah terlambat, dokter sudah menunggu. Saya bergegas menuju ruang bersalin di lantai dua. Sepi. Hanya ada dua bidan jaga. Empat ranjang bersalin tampak kosong, pun boks-boks mungil di ruangan sebelahnya. "Dokter Lisda sedang visit pasien. Tadi mbaknya ditunggu dari jam tujuh," kata salah satu bidan. Ya Tuhan, saya terlambat hampir satu jam. Bidan langsung menyuruh saya berbaring untuk cek pembukaan mulut rahim dan tes CTG (Cardiotocography). Sudah hampir seminggu pembukaan mulut rahim saya mandek di dua sentimeter. "Dua setengah," katanya sembari melepas sarung tangan lateks. Cuma bertambah setengah sentimeter. Saya pesimis bakal bersalin normal hari itu. Harapan melahirkan didampingi suami juga mulai samar. Saya diam, termangu menatap layar CTG yang belum dimatikan. Sapaan ramah dokter Lisda kemudian men...

Bayi Main ke Wakatobi

Umur Raina baru genap 11 bulan ketika siang itu ayahnya tiba-tiba mengirim pesan, "Mau ikut gathering ke Wakatobi nggak sayang?" Sejenak saya berpikir, Wakatobi pulau kan? Terpencil kan? Otomatis saya pun mencari tahu di Google bagaimana kondisi taman nasional yang katanya mendunia tersebut. Cantik. Bawah lautnya luar biasa. Tapi jalan-jalan ke pulau bawa bayi? Di sana bayi bisa ngapain? Memang, dari pengalaman sebelumnya, Raina sangat menyenangkan saat diajak jalan-jalan jauh. Pertama kali naik pesawat Cengkareng-Makassar (sebelumnya lewat darat Tegal-Cengkareng) saat umur 3 bulan. Tidak rewel sama sekali. Sampai umurnya 9 bulan, total sudah 9 kali naik pesawat ke lima provinsi. Saya memang sering mengajaknya ke luar kota ikut ayahnya dinas. Mau naik pesawat, kereta, bus, taksi, angkot, motor, Raina tidak pernah rewel. Namun mendengar kata Wakatobi yang terpikir oleh saya: harus naik perahu, menyelam atau minimal snorkeling , ombak kencang, angin laut, jauh dari ru...

'Mahmud Abas' yang Cengeng dan Galau

Semenjak hamil, ada banyak perubahan yang saya rasakan. Bukan soal perut membuncit atau lengan yang makin mirip samsak, tapi perubahan emosi. Saya jadi lebih cengeng, gampang menangis. Nonton FTV dengan cerita cemen saja saya bisa menangis tersedu-sedu. Sebelumnya tak pernah begitu. Ah, pengaruh hormon. Nanti setelah melahirkan juga hilang. Pikir saya. Memang benar. Setelah melahirkan saya tidak lagi menangis saat nonton FTV. Tapi 'kecengengan hamil' ternyata meninggalkan warisan. Saya semakin mudah menangis setelah menjadi seorang ibu. Melihat anak sakit, nangis. Anak muntah-muntah karena belum bisa makan telur, nangis. Anak rewel habis imunisasi, nangis. Lelah begadang berhari-hari, nangis. Anak begini nangis, anak begitu nangis. Duhduh... Saya yang dulu (berusaha) tak menangis di depan orang berubah jadi wanita cengeng yang dikit-dikit mewek. Menjadi ibu juga membuat saya tak pernah berhenti khawatir. Dari Raina lahir hingga sekarang umurnya 7 bulan lebih, en...

Wajarkah Bayi Mencakar Wajah Sendiri?

Raina suka sekali mengusap-usap wajah saat ngantuk. Juga menggaruk-garuk kepalanya saat sedang menyusu. Tapi yang saya khawatirkan, dia suka mencakar wajahnya sendiri saat tidur, terutama malam hari. Sampai-sampai di jidat, hidung, dan pipinya sering ada bekas luka cakaran. Sebenarnya wajar nggak sih bayi suka mencakar wajahnya sendiri? Sebagai mantan jurnalis kesehatan, emaknya penasaran dong (mantan jurnalisnya nggak penting sih hehe). Saya kemudian mencoba mencari referensi sendiri, tentu harus akurat dan dari sumber terpercaya. Kemudian saya menemukan jawabannya di situs Babycenter. Kebetulan dulu saya juga sering menjadikan situs tersebut sebagai acuan menulis artikel. Dari situs itu, saya mendapat informasi bahwa kebiasaan bayi mencakar wajahnya tergolong normal. Menurut David Geller, dokter spesialis anak dari Bedford, Massachusetts, AS, bayi ( newborn dan infant ) memiliki sedikit kontrol terhadap tangannya. Pada tahap ini umum bagi mereka untuk sengaja mengga...

Ibu Rumah Tangga Sarjana

Setiap wanita berhak memilih bagaimana ia bisa bahagia. Dan saya memilih menjadi ibu rumah tangga, walau bergelar sarjana. Memilih mengurus dapur, walau sedang duduk di posisi redaktur. Tidak sedikit yang mempertanyakan keputusan yang saya ambil. "Apa tidak sayang gelar sarjanamu?" "Ngapain kuliah susah susah kalau akhirnya cuma tinggal di rumah?" "Nggak takut nggak punya gaji?" Dan lainnya dan lainnya. Sebelum menikah saya memang ingin sekali menjadi wanita karier. Dan buat gadis yang tidak bisa duduk diam, menjadi jurnalis tentu pilihan yang asyik. Tidak perlu seharian duduk di belakang meja menghadap monitor. Bisa keliling ibukota, Indonesia, atau bahkan dunia. Tapi pekerjaan itu yang justru mengubah pola pikir awal saya. Sebagai jurnalis kesehatan, saya sering meliput talkshow atau seminar umum tentang kesehatan dan pola asuh anak. Satu tema menarik yang kemudian mengubah mindset saya : 1000 hari pertama kehidupan. 1000 hari pertama keh...